Rabu, 01 Oktober 2014

Sama..

Untuk kamu, yang berada di pulau antah berantah, tersesat atau masih mencari jalan pulang di pulau yang tidak aku ketahui seluk beluknya. Di pulau yang tak pernah aku kunjungi. Kubilang, tulisan-tulisan ini masih sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Tulisan ini bertokoh utama seorang yang bernama Kamu. Menceritakan tentang apapun yang membuatku tersiksa; rindu. Menjabarkan tentang cerita kita yang terikat kilometer. Tulisan ini, seakan membuatku terlihat tidak berdaya. Padahal, aku sangat ingin telihat baik-baik saja di hadapanmu. Kurasa, kamu mengenalku dengan sangat baik. Betapa aku sangat tidak bisa menahan kegundahan yang ada di dalam hati. Kegundahan yang selalu berwujud rindu yang awalnya hanya sekecil debu, namun sekarang debu itu bertambah tebal seakan tidak pernah dibersihkan. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membersihkannya. Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya. Seolah-olah aku tidak pernah bisa menyentuh sebutir debu itu. Mungkin hanya tulisan ini satu-satunya alat untuk melepaskan semuanya. Jujur, hari ini aku benar-benar merasa tersiksa dengan semuanya. Dengan kerinduan yang tidak pernah berhenti berdetak. Aku pun tidak pernah mengerti mengapa bisa separah ini. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan. Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu yang sebenarnya. Apa kamu baik-baik saja? Apakah kamu sehat? Benar-benar sehat? Meskipun aku percaya padamu sepebuhnya, tapi rasa percaya itu belum sepenuhnya bisa menghentikan rasa takutku, belum sepenuhnya menghentikan rasa khawatirku. Barangkali kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Barangkali kamu bisa memelukku yang mungkin sudah cukup lemah dan pucat. Bukan hal mudah bagiku untuk tersenyum dengan sangat bahagia. Bukan hal mudah bagiku untuk tidak memperdulikan apa isi hatiku yang sebenarnya. Aku ingin sekali mengatakan ‘Hari ini aku baik-baik saja.’ Tanpa mengubah kenyataan bahwa aku memang baik-baik saja. Tapi, aku tidak pernah bisa, sungguh. Jikalau aku berkata ‘aku baik-baik saja’ beberapa hari kedepan aku akan mengatakan ‘aku lelah’ . Sepertinya kamu disana cukup baik. Aku senang mendengarnya. Karena hal yang paling membuatku lega adalah mengetahui bahwa kamu baik-baik saja dan bahagia disana. Bahagia dengan tempat tinggal barumu, sekolah barumu, teman-teman barumu, lingkungan barumu. Aku senang sekali, karena doa-doaku telah dikabulkan dengan Pemilik Rindu yang sebenarnya. Aku juga masih merapal mantra ‘semoga’. Semoga aku masih menjadi satu-satunya dalam duniamu. Kali ini, tolong ajari aku menjadi jiwa yang ‘baik-baik saja’ Aku tidak ingin ketika aku menginjakkan kakiku disekolah, kenangan membuat tenggorokanku tercekat kembali menyerangku. Rasanya, nafasku sudah habis, tak tersisa. Ajari aku bagaimana cara menjawab pertanyaan teman-teman disekolah yang kebanyakan tentang keadaan hubungan kita. Ajari aku cara menyembunyikan air mata yang setiap hari membuat pipiku terasa dingin. Sepertinya, tanganku sudah cukup lelah untuk menghilangkan air mata itu. Lantas, siapa yang akan menghapus air mataku lagi? Ternyata, rasa sakit karena jarakmu dan aku yang terlampau jauh yang selama ini kupelihara, tumbuh subur merimbun sampai mencekik inangnya sendiri. Bagaimana ini? Ah tidak, jangan meminta maaf padaku. Kamu tidak pernah bersalah. Aku yang sepenuhnya salah karena tidak begitu tegar menghadapinya. Aku sedang tidak mengeluh aatau memaksamu kembali. Aku sedang tidak mengemis perhatian kepada kamu. Aku sedang tidak membebanimu dengan pikiran-pikiran tentang lemahnya diriku. Aku tidak sedang membuatmu khawatir. Aku tidak mau membuatmu memusingkan segala tentangku. Aku tidak sedang membuat kamu bersedih disana. Aku hanya ingin menulis tulisan-tulisan yang berceceran diantara paragraf yang tidak teratur. Aku hanya ingin berbagi cerita denganmu. Dengan orang yang teramat aku sayangi. Baiklah, tetap menjadi yang terbaik di sana.. Dan, aku akan berusaha menjadi jiwa yang ‘baik-baik saja’

Jumat, 12 September 2014

Saranghae..

Selamat sore. Apa kabarmu? Semoga baik-baik saja. Aku ingin bercerita tentang keseharianku, apapun yang aku lakukan selang waktu luangku. Jujur saja, setiap saat aku selalu memikirlanmu, mengingat sosokmu ketika masih ada di kotaku, aku mengingatmu ketika aku masih bisa melihatmu setiap hari. Aku juga mengingat ketika dengan nafas yang terengah-engah aku mengejarmu yang tak pernah mau mempedulikanku. Ketika itu, aku berharap kamu bisa mengganti nafasku yang terbuang. Ketika itu juga, aku menginginkan kamu memberiku sekotak obat-obatan untuk mengobati luka lebam di dalam hatiku. Aku juga pernah berharap, kamu akan menghapus air mataku dengan tanganmu. Lama sekali aku menunggumu. Sepertinya di antara jarak kita yang jauh, selalu ada kata "Menunggu" yang mengambang. Aku juga tidak tahu apa penyebabnya. Saat itu aku menunggumu untuk melindungi hatiku didalam hatimu. Namun, kini aku menunggumu pulang. Kapan kamu pulang? Kapan kamu kembali membawaku dalam pelukanmu yang nyata? Kapan aku bisa menatap matamu dan menikmati senyumanmu? Tolong, kali ini jangan membuatku kehabisan suara karena aku sudah meneriaki namamu di setiap pagi yang sepi.Tolong, jangan membuatku kehabisan nafas lagi hanya untuk sekedar menahan air mataku jatuh. Dan tolong, jangan membuat air mataku jatuh tanpa henti karena mengingatmu. Semua orang disini terasa begitu jahat dan dingin. Dingin sekali. Lantas dimana lagi aku bisa menemukan kehangatan? Kamu tau? burung yang berkicau setiap pagi hari. Bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya. Seakan-akan mengejekku yang hanya berjalan dengan bayanganku sendiri. Ketika itu adalah saat dimana aku benar-benar ingin menangis. Seperangkat perkusi di dalam jantungku mulai bertabuhan dengan meriah. Hatiku berteriak dengan keras, menunjukkan bahwa aku tidak pernah ingin kehilanganmu dari pelukanku. Aku tidak pernah tahu mengapa ada rasa kosong pada saat aku membuka mata dari tidur lelapku, mengetahui bahwa kamu tidak ada didekatku seperti dulu. Namun, setidaknya kamu masih mencintaiku dan aku masih mencintaimu. Lalu, yakinkan padaku bahwa kamu akan kembali. Yakinkan padaku, bahwa kamu akan membawaku kedalam pelukanmu. Yakinkan padaku, bahwa aku bisa melihat matamu dan menikmati senyumanmu lagi. Dan, maafkan aku karena tidak bisa menepati janji agar tidak menangis lagi. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menemanimu disana. Maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi obatmu ketika kamu sedang sakit disana. Tapi, berjanjilah bahwa tidak akan ada orang yang pertama kali mendengarkan keluhanmu selain aku. Berjanjilah bahwa tidak akan ada mata orang lain yang meyakinkanmu jika semua baik-baik saja selain aku. Berjanjilah bahwa tidak akan ada bahu orang lain yang lebih kokoh untukmu bersandar selain aku. Berjanjilah bahwa hanya ada satu orang yang kamu simpan dalam kotak hatimu, yaitu aku. Aku akan selaku menunggumu di pelabuhan ini. Aku selalu menunggu nahkodaku kembali dengan selamat, kembali dengan perasaan yang sama.

Minggu, 07 September 2014

He's all I want.

Untuk yang kesekian kalinya, mataku menatap langit yang begitu sepi. Biru bersih tak berawan, namun cerah. Burung-burung dengan berisik sedang bercuap-cuap dengan teman mereka masing-masing. Menceritakan sebuah dongeng menyambut hari. Bisa kurasakan kesepian yang menjalar diseluruh langit Malang. Semakin menambah sepi yang tak kunjung hilang di dalam hati. Dalam kepalaku, tumbuh anak-anak rindu yang lugu. Mencoba bangkit dari luka yang menggigit. Kupaksa diriku tersenyum, berusaha mengimbangi kebahagiaan burung-burung yang senang bercerita di pagi hari. Begitu irinya diriku dengan mereka yang bisa terbang kesana-kemari, entah tanpa beban atau tidak. Jika aku memiliki sayap seperti mereka, aku akan ber-transmigrasi dari langit Malang ke langit yang sekarang kamu tempati. Betapa tidak, rindu sudah menjadi penyakit paling kronis yang menggerogoti tubuhku. Kupikir, aku adalah obat. Tapi itu salah. Kamu dan aku sama-sama membutuhkan. Apa kabarmu disana? Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah masih menyimpanku dalam penjara hatimu? Apakah aku masih menjadi satu-satunya dalam hatimu? Aku masih menjadikan kamu sebagai tokoh utama dalam duniaku. Aku masih membawa namamu dalam percakapanku dengan Tuhan. Aku masih disini. Beberapa waktu lalu aku pernah bertanya kepadamu. Mengapa senja muncul dalam waktu yang cukup singkat? Mengapa sesuatu yang indah hanya ada dalam waktu yang cukup singkat pula? "Senja yang indah itu memang hanya sebentar, tapi suatu saat ia pasti kembali dengan warna yang lebih indah lagi dari yang sebelumnya. Jika menunggu waktu pasti akan terasa lama, tapi jika kamu mengingat waktu terjadinya, ia akan datang lebih cepat dari yang kamu duga." katamu. Apakah benar begitu? Apakah akan selalu seperti itu? Jika memang benar seperti itu, aku tidak tahu harus berapa lama lagi aku memelihara penyakit yang ternamai rindu ini. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku harus bertahan. Tapi, bagaimanapun juga rindu ini pula yang selalu menuntunku untuk selalu mempertahankan apa yang harus aku pertahankan. Rindu ini pula yang selalu mengajariku bagaimana rasanya bertahan untukmu yang terhalang ratusan atau bahkan ribuan pintu di depan sana. Yang terhalang oleh kilometer dan membuat kita semakin merasakan ada jarak yang harus kita tempuh untuk menghilangkannya, untuk menjadikan kita dekat. Dan, aku percaya kamu juga akan menjaga kokohnya benteng yang telah kita bangun. Aku tidak pernah menuntutmu untuk menjadi apa yang aku mau, aku tidak pernah mau membebanimu dengan berbagai persoalan yang berkelebat dibenakku. Aku hanya ingin jalan terbaik yang layak kita lewati, untuk membuka berbagai pintu yang ada di depan sana. Aku mempercayaimu sebagai nahkoda yang akan mengatur laju kapal, berlabuh dilaut hatiku, berlabuh di samudera yang akan kita lewati bersama-sama. Dan hanya ada satu pelabuhan yang akan menjadi tempat pemberhentian, pelabuhan yang bernama kebahagiaan. Tentang senja yang mengapa muncul dalam waktu yang singkat, aku sudah menemukan jawabannya. Kupikir, keindahan yang ia miliki terlalu berharga. Tidak akan ada sembarang orang yang benar-benar menikmati keindahan yang dimilikinya. Hanya orang-orang yang benar-benar mencintainya, yang hanya akan bisa tersenyum bahagia dengan sosok senja yang membawa bahagianya cinta menjadi sangat bahagia. Karena cinta adalah perasaan, ketika pertama kali aku mengenalmu. Cinta adalah rasa sakit, dunia akan cemburu kepada aku yang memilikimu. Orang yang membuatku bernafas. Dan hanya satu orang yang terukir dalam hatiku. Orang yang hidup dimataku. Hanya ada satu orang yang tersembunyi di hatiku. Orang yang terbenam dalam kepalaku, orang yang tinggal dalam kenanganku. Kamu. Seperti temanmu, seperti bayangmu. Kita sudah melangkah bersama-sama. Di hatimu, aku meletakkan tanganku dan dari tempatmu, kau akan selalu bisa melihatku.

Kamis, 08 Mei 2014

Ini ceritaku. Apa ceritamu?

Selamat datang, wayang rinduku. Tanpa sengaja kita bertemu, di tepi jalan yang kunamai jalan antara takdir atau kebetulan.Waktu mungkin memang terus memburu. Mengingatkan padaku setiap lembar memori yang teruntuk hanya bagiku. Aku tak pernah berfikir sejauh ini sebelumnya. Tapi mungkin, kamu yang memaksaku berfikir hingga sejauh ini, bertahan sejauh ini, dan masih tetap menyayangimu sejauh ini. Dan itu bukan soal, aku menikmatinya, asalkan kamu tak pergi jauh dariku. Karena adamu lebih hangat daripada kenangan yang terus meminta diingat, karena rumah hatimu adalah tempat ternyaman yang sekarang aku tempati. Rumah hatimu, bukan hanya sebagai tempat persinggahan, tapi juga sebagai tempat penghargaan, hatiku mulai merasa berharga berada di dalam sana, hatiku menemukan keteduhan didalam sana. Kamu masih sama, selalu memberiku tumpukan teka-teki. Awalnya kukira, kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat itu, tapi mungkin saja aku hanya berangan-angan yang melebihi batas wajar. Senyumku mengembang dalam diam, tak ada yang tahu bagaimana kamu melakukan semua ini, tapi aku mengerti. Mungkin cerita kamu dan aku pernah tertulis dalam sajak-sajak penyair yang tak pernah selesai atau di halaman belakang sebuah roman yang berakhir bahagia. Atau di dalam lirik2 lagu yang mendentingkan sunyi ditelinga atau dialun nada musik semesta yang kudengar semasa kecil. Kadang, aku berdoa agar harapanku menjadi nyata; memilikimu seutuhnya, menyeimbangkan hidup dan berjalan beriringan. Memberi kedamaian di sisi dan kasih sayang tiada henti. Tertawa bersama dan ketika dunia begitu kejam kamu menjadi tempatku untuk selalu pulang. Barangkali harapan ini hanya semacam doa, yang memeluk kehampaan sebagai kamu. Kadang, setiap merindumu, aku menegarkan hati dengan merapal mantra "semoga" dan berharap mantra itu mustajab. Gerimis kenangan menghujan tiba-tiba. Setiap mncoba menarik ingatan itu agar beralih pada segala selain kamu itu sia-sia. Tidak ada apa-apa selain ketakutan, kesendirian, dan bayangan suram. Aku berhenti melawan dan membiarkan ingatan itu menarikku ke beranda gelap masa lalu. Aku pejamkan mata dan mengabaikan hatiku yang terus meneriakkan namamu. Aku tak tahu apakah takdir, kelak, akan mempertemukan kita atau tidak. Ketika itu aku cemas. Aku tak tahu apakah benar-benar jatuh cinta. Sebab cinta, seperti hujan. Selalu bermula dari tetesan. Lambat laun makin lebat. Waktu memang merangkak dengan baik, tepat, dan cepat. Seolah tak memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu. Hari itu, saat perbatasan senja mulai datang. "Kamu dan aku" telah menjadi "Kita". Aku mempersilahkan kapalmu berlabuh di dermaga hatiku Menjadi belahan jiwa satu sama lain. Belahan jiwa yang semakin bening dalam mencintai. Setelah itu, aku sempat berulang kali membaca pesanmu, meyakinkan bahwa semua ini bukan mimpi yang mampu menempatkanku pada titik puncak kebahagiaan.Dan semuanya bukanlah mimpi, ini nyata. Tatkala pada jarum jam yang selalu berdetak, kutitipkan rindu yang tak pernah retak yang teruntuk hanya bagimu. Sebab, di jantung rinduku kamu adalah keabadian.

Jumat, 07 Maret 2014

Haruskah aku memberi judul ?

Angin hujan menerpa wajahku, perlahan tetes demi tetes airnya meluncur lembut di pipi. Aku bersyukur, hujan segera turun, menyembunyikan air mata yang sedari tadi menetes. Melunturkan luka penuh liku yang ia berikan. Menimbun rasa sakit itu kedalam tanah, atau hanya menggenang dibawah kaki. Aku masih mencari jejaknya, kali ini pada suara gemercik hujan yang senantiasa menyapaku kala sepi dan gundah. Otakku seringkali meronta-ronta meminta agar hujan kunjung hilang. agar air mata kunjung surut. Namun hati selalu saja mengindahkan lewat kenangan. Mencegahku untuk memastikan segalanya, untuk meninggalkannya. Aku tau jika semuanya tak lebih dari garis ini, aku belajar menerima. Tapi entahlah, seperti tidak tersusun rapi rencana Tuhan, karena aku lebih mementingkan ego dan rasa lelahku ketimbang menunggu. Sudah terlanjur sekarang, tak ada yang bisa ku gubah lagi. Sudah cukup satu luka yang menganga lebar. Aku ingin menjauh.. Aku ingin pergi.. Aku ingin memperbaiki keadaan.. Aku ingin mengembalikan tawaku sendiri! Aku memejamkan mataku, berharap setelah itu tak ada lagi yang harus aku risaukan. Tak ada lagi mimpi-mimpi aneh yang setia menjadi teman dalam tidurku. Dadaku mulai sesak, mataku memanas, bibirku bergetar. Tak kuat lagi menahan tangis dan perih. Ku paksakan memejamkan mata, agar aku segera tertidur dan melupakan semua yang terjadi hari ini. Membiarkan air mata menetes dengan derasnya. Dan akhirnya aku benar-benar tertidur. Sayangnya, kenangan tak pernah mau berdamai denganku, masih mengikuti kemana arah aku ingin menghindar. Dalam mimpi yang tak karuan, aku mendengar sayup-sayup suaranya, remang-remang melihat wajahnya. Dan menghilang. Ada nada yang ia sengaja lengkingkan. Pada bait terakhir sebelum berucap selamat tinggal. Telingaku menangkap samar satu kalimatnya. Ada ragu atas keyakinanku tentang maksudnya. Mungkinkah, derainya tadi hanya bisikan nyata atas ilusiku. Detak yang ku hitung dalam ingatan, kembali sesak tersengal oleh rindu. Yang ia bawa saat degupku mati suri. Dan napasku menggema pada dinding bisu. Pada ketukan terakhir di ambang pintu. Telinga menangkap langkah kaki dibaliknya. Entah menuju atau berjalan jauh. Namun ada gugup yang angin desaukan. Dari sebuah bingkai di jendela senja. Dia berhenti. Membiarkanku tenggelam pada lamunan. Entah apa maksudnya, aku tak paham. Aku terjaga, melihat sekeliling yang gelap gulita. Sialnya, sepi dan mimpi tadi, membuat otak tak mau berhenti berfikir. Serta degup jantung yang berdentum-dentum tak mau tenang. Aku sesegukan tak karuan disini.. Membasuh wajah dengan air mata. Mungkin, kenangan sudah mengutuk diri, menjadi yang selalu ada dalam setiap langkah.

Kamis, 27 Februari 2014

Sajak Tanpa Judul

Tak ada yang bisa kusajakkan selain kamu. Tak ada yang bisa kurisaukan selain rindu. Tak ada yang bisa kunyanyikan selain haru. Saat mataku bersafari menelusuri langkahmu, terus berusaha menemukan jejakmu dari ribuan ilalang disitu. Saat itu pula awan hitam menutupi senja, seolah ingin mengatakan padaku aku harus melupakanmu. Dari sebuah perasaan yang terhalang debu, juga sekelumit jiwa yang tak kenal waktu. Memberi seulas senyum dan tawa pilu. Seolah rindunya itu menerpaku. Senja memang berkode seperti itu. Sayangnya, hatiku masih seperti batu. Yang tak kenal mati kutu. Masih bersikeras menemukanmu, menggapai tanganmu, memilikimu. Deru malampun tau, bahwa namamu terukir jelas dihatiku, dibenakku.

Mungkin

Selamat malam pelukis rindu. Tak ada yang tahu bagaimana rindu ini mendatangiku setiap waktu. Sebab, kamu kenangan yang tak meminta saputangan, setiap air mata mengingatmu. Sedang aku, ingatan yang sepenuhnya kamu. Angin senja menyapu wajahku ketika paragraf pesanmu ku baca berulang kali. Di halaman rumah, sunyi melambaikan tangan, mengajakku menjenguk masa lalu. Gerimis kenangan menghujan tiba-tiba. Aku berharap kamulah yang datang mengobati rinduku. Beginilah caraku menguras sunyi: menyesali diri, membasuh wajah dengan air mata, dan mengutuk keraguan yang lekat dikepala. Kesendirian, memang melekatkanku pada kesepian. Dan kamu, masih tetap menjadi bayang-bayang. bayangan sejati. Aku menatap diriku pada air jernih di depanku, aku menimang-nimang rindu yang kamu tumpahkan di wajahku hingga membentuk ekspresi memelas. Entahlah, hanya rindu yang jadi gara-garanya. Satu hal yang tak aku menegerti,kenapa waktu dan kenangan begitu tak bersahabat dengan jiwaku? Mengapa yang bersahabat dengan jiwa ragaku malah air mata? Mungkin, bayangmu sudah terlalu melekat disini, Mungkin, rindumu tak akan pernah hilang dari jiwa Mungkin, senyummu masih teringat di saku kepala Mungkin, namamu masih terukir jelas disini Mungkin, sakitku masih menganga Mungkin, kamu masih selalu membebaniku dengan teka-teki.

Kamis, 20 Februari 2014

Entahlah

Sesekali aku selalu memilih sepi menyelimutiku. Kadang aku memilih duduk sendirian ditengah ruangan tanpa harus ada yang menggangu. Tanpa harus ada sekelumit rasa sedih ataupun galau yang terus meminta merasuki tubuhku , beredar .dalam setiap pembuluh darahku. Tak jarang, aku merasakan ada yang kurang dari sekotak tawaku, aku merasa akan ada lagi yang hilang. Aku menunduk ketika ingar-bingar kehidupan mendatangiku. Aku merenung ketika kegelapan menyergapku. Aku membisu ketika senja meninggalkanku. Aku terpojok ketika dunia seperti tidak sejalan denganku. Aku memejamkan mata ketika tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya, aku ingin menangis meluapkan segala ketidak nyamananku. Mengusir sekelumit harap yang selalu terperangkap dalam tiap degup jantung. Sungguh aku ingin pergi dari hiruk pikuk yang menyesakkan dada, aku benci melihat orang yang salah berlalu-lalang disekitarku. Tolong.. aku muak.. Aku ingin pergi kesuatu tempat dimana tak ada seorangpun yang mengenalku, dimana tak ada seorangpun yang menyakitiku, membuatku kecewa, dan sedih. Namun itu mustahil. Aku hidup di dunia yang tentunya beragam fragmen. Bukan hanya cinta, namun orang yang paling dekat sejak kecil juga tak pernah mendengarkan sepatah kata nasehat yg aku ingin berikan. Aku tak kuat jika terus mengalah dan mengalah. Benci. satu kata yang sering lewat didalam otak. Tapi aku tak pernah membenci. Seorang laki-laki tua yang sudah mengajariku bahwa membenci tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Lantas, apa itu benci? Mengapa kata tersebut kerap merambati pikiranku? Aku benci kata benci. Aku benci kesalahan. Aku benci kekecewaan.. Sudahlah, kalian tak mungkin akan mengerti. Kusudahi kegalauan yang merenggut kebahagiaan. Meski hanya sementara.

Senin, 17 Februari 2014

Ini Caraku

Sudah ku sajakkan rindu Pada malam yang menolak sepi. Deru angin subuh pun tau, Bahwa adamu lebih hangat Daripada kenangan yang terus meminta di ingat. Ketika pagi mengetuk pintu hati, Membawa serta serpihan mimpi, Aku ingin menjadikan angan itu nyata, Serupa bunga yang mekarkan adamu. Meski genggamannya berduri; perih. Ada sayup-sayup pada kelopak, Menimang kantung-kantung hitam, Terjaga lelapnya untuk menilik kabarmu, Meski baikmu telah kau lisankan padanya. Aku; menunggu sendiri bagian sepi. Yang jawabnya masih kau bisukan. Jika detak degupku tak mengindahkan, Bahkan membuat gaduh pada teduh hatimu. Maaf. Ini hanya caraku Mengharap dirimu berbalik dan tersenyum. cr : tepiansajak.blogspot.com

Menggali kenyataan

Pada sore ditemani dengan hujan yang turun dengan lembutnya. Pada sore ditemani dengan pena dan kertas yang kerap menjadi sahabat bisu. Pada sore yang ditemani dengan segenggam keyakinan. Awalnya, aku tak mengerti apa arti hidup sesungguhnya. Juga sesosok fragmen yang harus ada, Sahabat. Ketika kecil, aku tak pernah peduli dengan seorang sahabat. Aku tak pernah percaya sahabat bisa mengubah segalanya. Aku memang punya teman. Tapi hanya teman tidak dekat(dulu). Tentunya, kian lama aku lebih dewasa. Kini aku belajar dan mengerti tentang sesosok sahabat. Awalnya aku mengira sahabat adalah seseorang yang bisa menemani dalam suka ataupun duka saja. Iya. Namun, sekarang sahabat yang kukenal dengan sifat itu malah membuatku kecewa dikemudian hari. Memang sifat semua orang berbeda-beda. Tapi apa pantaskah seorang sahabat yang sudah dipercaya malah membuat hati sahabatnya sendiri menangis? Kecewa? Aku membiarkan segalanya berjalan sesuai dengan jalurnya, layaknya air yang mengalir senjalan dengan alurnya. Memang ada rasa kesal yang sudah menggumpal seperti batu. Namun aku tidak diajarkan untuk memaki orang hanya karena hal sepele. Aku diajarkan sabar, tetapi tegas. Aku diajarkan lembut tapi disiplin. Jujur saja, aku tak bisa membenci seseorang meskipun orang tersebut menyakitiku. Seolah kembali menapak tilas perjalanan kehidupan yg selama ini aku lalui. Dan, kini aku mengerti jika sahabat itu tak hanya berdefinisikan menemani, tapi juga peka. Tak menutupi segalanya.Menyuguhkan semua luka penuh liku serta derai tawa penghantar bahagia.

Minggu, 16 Februari 2014

Seriously, (maybe) i'm fine

Mungkin, kamu berfikir bahwa aku menyerah dengan segala kepalsuan yang kamu suguhkan. Aku tidak menyerah, aku mengalah.. Aku membiarkanmu bahagia dengan Bintang disana. Aku tak akan pernah memaksamu menemaniku dengan tali yang selalu kau gantungkan padaku. Iya. Aku mengalah karena aku tak kuat lagi, bukan berarti juga bahwa aku melepaskanmu. Aku masih membawa bayangmu dalam setiap langkahku. Bukankah, bayangan tak akan pernah lepas dari ikatan? Bisa dibilang, kamu adalah sosok bayang-bayang dalam hidupku. Saat aku mengetahui kabar jika kamu telah bahagia dengan Bintangmu, aku merasa lega, senang. Meski rasanya seperti tersayat-sayat. Aku tidak melebih-lebihkan perasaan. Aku apa adanya. Aku melerakanmu demi Bintang. Aku tetap menyayangimu walaupun kamu seringkali menganggapku boneka, walau seringkali kau menganggapku tidak berguna. Aku tidak marah, aku hanya kecewa. Apa pantaskah, jika aku disini yg tulus malah kamu ejek dengan kata-kata yg sama sekali tidak indah? Meskipun secara tidak langsung, aku bisa mengerti. Kamu hanya menganggapku angin lalu. Jika dipikir-pikir seolah aku hanya oksigen yg dihirup sementara lalu dihembuskan menjadi karbondioksida yang tidak kamu butuhkan lagi. Iya. seperti sosok ku yang seringkali kau abaikan pengorbanannya. Tak apa, dadaku masih seperti senja. Aku membiarkan bayangmu berlalu lalang dalam ingar-bingar kehidupanku, kubiarkan dirimu menjadi fragmen dalam ruang hatiku. Aku tak peduli kamu menjadi debu dalam ruang kosong. Membiarkanmu menjadi cahaya dalam setiap kegelapan. Segalanya kubiarkan mengalir begitu saja. Sama halnya dengan dirimu yang kubiarkan mengalir dalam samudra hidupku lalu singgah di dermaga rinduku. Menggenang sampai akhirnya kembali lagi seperti siklus yg sudah biasa kaulakukan. Aku merelakan kamu melakukan itu , karena jika aku memprotes semuanya kamu akan pergi dari semua perotasian hidupku, aku tak mau kamu pergi.. aku takut kehilangan senyuman dan perhtianmu meski hanya sebatas pesan singkat. Aku menyayangimu dengan dibumbuhi kata 'betapa' . Sudah kesekian kali aku menjadikanmu tokoh utama dalam sastra-sastraku maupun dalam otakku. Aku tak pernah bosan menceritakannya.. Ini adalah sebentuk rasa yang kerap dirasakan hatiku meski pada akhirnya pena yg berbicara.. Jika mungkin ada keajaiban datang dan kamu membaca sastra-sastra yg menurutmu absurd ini, aku tak sabar melihat ekspresimu dan perasaanmu selanjutnya. Ah.. tapi tak mungkin kau mengubah perasaanmu secepat kamu membaca ini. Kamu sudah bahagia dengan Bintang, Bintang yg menurutmu selalu memberikan cahaya di kegelapan. Aku bahagia jika kamu bahagia, aku bersedih jika kamu bersedih, aku mengkhawatirkanmu jika kamu diam.. Aku mengenalmu tak terlalu lama, namun aku tau kamu akan menutup telinga lalu beranjak pergi jika aku membicarakan soal cinta melulu. Baiklah, terakhir.. Aku mengenalmu tanpa banyak ucap, menyayangimu tanpa pengungkapan, merindukanmu tanpa tindakan, dan kamu sudah mengajariku bahwa manisnya cinta adalah duri. Setiap kita menyayangi seseorang pasti akan ada rasa sakit, untuk tau arti bahagia yg sesungguhnya, untuk tau akan ada tawa dibalik tangis. Dan membuatku sudah terbiasa dengan air mata, membuatku lebih tegar menghadapi badai. Iya. Seperti kataku, dadaku memamang cukup lapang seperti senja yg menampung gelap terang atau tangis dan tawa. Satu hal, mataku juga seperti awan yang tak sanggup membendung air mata.

Berpijak disini, untuknya.

Saya masih berada disini.. Masih menemani sepi yang tak kunjung hilang. Meskipun kamu yang kutunggu juga tak kunjung mengerti. Sudahlah, saya sudah cukup lelah sebenarnya. Senja pun juga ikut-ikut tidak menampakkan cahayanya, namun mengapa diriku masih saja setia menunggu? Entahlah, kamu seperti getaran di hidup saya.. Iya. Kembali lagi lalu menjauh, kembali lalu menjauh. Terus seperti itu dan saya tidak tahu kapan kamu akan memberi kejelasan. Rantai hatiku masih kuat. Masih mampu memuat segalamu. Namun, bagaimana jika rantai itu rapuh? Ah, mungkin hujan sudah memilih untuk menikahi kepedihan. Lalu aku hanya bisa menundukan kepala, sekuat mungkin membendung air mata. Menengadah lalu mendunduk lagi. Kali ini hujan benar-benar turun. semoga rinduku kunjung masuk dalam kepekaan rindumu. Dan kamu lekas menghapus mendung di atas kepala. Serta, Allah cepat-cepat mengemas semua yang berhubungan dengan kamu. Agar aku tidak selalu berharap yang tidak-tidak, yang melebihi batas wajar. Agar aku terbebaskan dari kerajaan milikmu yang sungguh memenjarakan perotasian hidupku. Dan menjalani hidup semestinya. Tanpa harus ada namamu yang terselubung di sela-sela otakku. Tanpa harus ada sisa rindu disela kata-kataku. Suatu waktu, aku selalu merasakan Senja begitu cepat menenggelamkan dirinya. Pada awan-awan petang, Ia meleburkan indahnya. Hingga malam, hingga kelam. Pada suatu hari, aku selalu merasakan awan hitam begitu cepat menyelimuti bumi dan hujan begitu cepat menggenang. Tiap tetesnya tak lagi berbisik lembut, tetapi mengeram menahan luka yang dibuat oleh petir. Lukanya masih terlalu menganga, pipinya basah. Suaranya tak lagi seperti nyanyian alam, namun seprrti isak tangis yang terlalu lama ditahan. Air itu tidak mendapatkan muara, air itu tidak memiliki sesuatu yang bisa menghilangkan sakitnya, terus menetes tiada hentinya. Mendung lantas meraja lela. Kamu, iya kamu. Apa kamu tidak berniat menolongnya? Memberikan plester dan sekotak obat agar air matanya surut? Apakah dihatimu tidak ada celah sedikitpun untuk tidak menyakitinya? Oh.. Iya kamu Petir yang tidak pernah tahu rasanya terusik oleh bentakan mautmu dan perlakuanmu yang selalu menggantung. Pada hujan kali ini, ada jejak kakimu yang tertinggal. Ada rindumu yang tercecer. Ada cintaku yang tak selesai.

Langkah Tak Pasti

Aku berdiri disini masih dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya. Menunggu sebuah keajaiban Allah datang menghampiriku. Tak ada yang spesial disini.. Cinta masih menerkamku. Cinta masih memberiku sejumput kebahagiaan, perhatian dan kasih sayang. Aku bahkan tak tau apakah dia hanya menganggapku sebagai sahabat sangat dekat ataukah lebih? Semua jawaban masih berada ditangan Sang Kuasa dan dirinya sepenuhnya. Bulan ini, aku kaubanjiri berbagai pertanyaan dan perharian, oh.. tak lupa kau juga membanjiriku dengan senyum, tawa, haru, dan question not with answer.
Kamu bertanya, apa lagu yang aku sukai, untuk berlatih memainkan gitar. Dan aku bertanya, untuk apa kamu bermain gitar dengan semua lagu kesukaanku?
Setelah itu, kamu memberitahuku dan mengajariku membuat paper craft, secara langsung, dengan percakapan-percakapan kecil, dengan lirikan mata yang kadang-kadang bertemu dan sukses membuat detak jantungku tak karuan, salah tingkah. Setelahnya, aku menangis haru didalam kelas.. Yah, spontanitas, air mata itu mengalir tanpa diberi aba-aba.
Kemudian, setelah malam tiba, kamu mperhatikanku dengan perhatian yang mendalam, menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, kenapa tidak tidur-tidur hingga malam.. dan kita saling bertukar pikiran sampai pukul sepuluh malam. Aku benar-benar tak tahu apakah semua ini hanya ilusi yang melebihi btas wajar, aku tak tahu apakah semua ini hanya berkaitan dengan yang instan. Semuanya masih mengambang, masih menggantung. Tak jelas arahnya kemana. Aku hanya bisa berusaha, berdoa, dan berharap. Berharap bahwa keajaiban akan datang. Karena sikapmu terlebih sering berubah-ubah dan aku tak pernah menyukai hal seperti ini, sungguh! Aku akan menunggu, jika aku lelah menunggu aku akan berlari, jika aku lelah berlari aku akan berhenti dan menunggu, begitu seterusnya.. sampai kamu membebaskanku dari penjara rindu~