Kamis, 08 Mei 2014

Ini ceritaku. Apa ceritamu?

Selamat datang, wayang rinduku. Tanpa sengaja kita bertemu, di tepi jalan yang kunamai jalan antara takdir atau kebetulan.Waktu mungkin memang terus memburu. Mengingatkan padaku setiap lembar memori yang teruntuk hanya bagiku. Aku tak pernah berfikir sejauh ini sebelumnya. Tapi mungkin, kamu yang memaksaku berfikir hingga sejauh ini, bertahan sejauh ini, dan masih tetap menyayangimu sejauh ini. Dan itu bukan soal, aku menikmatinya, asalkan kamu tak pergi jauh dariku. Karena adamu lebih hangat daripada kenangan yang terus meminta diingat, karena rumah hatimu adalah tempat ternyaman yang sekarang aku tempati. Rumah hatimu, bukan hanya sebagai tempat persinggahan, tapi juga sebagai tempat penghargaan, hatiku mulai merasa berharga berada di dalam sana, hatiku menemukan keteduhan didalam sana. Kamu masih sama, selalu memberiku tumpukan teka-teki. Awalnya kukira, kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat itu, tapi mungkin saja aku hanya berangan-angan yang melebihi batas wajar. Senyumku mengembang dalam diam, tak ada yang tahu bagaimana kamu melakukan semua ini, tapi aku mengerti. Mungkin cerita kamu dan aku pernah tertulis dalam sajak-sajak penyair yang tak pernah selesai atau di halaman belakang sebuah roman yang berakhir bahagia. Atau di dalam lirik2 lagu yang mendentingkan sunyi ditelinga atau dialun nada musik semesta yang kudengar semasa kecil. Kadang, aku berdoa agar harapanku menjadi nyata; memilikimu seutuhnya, menyeimbangkan hidup dan berjalan beriringan. Memberi kedamaian di sisi dan kasih sayang tiada henti. Tertawa bersama dan ketika dunia begitu kejam kamu menjadi tempatku untuk selalu pulang. Barangkali harapan ini hanya semacam doa, yang memeluk kehampaan sebagai kamu. Kadang, setiap merindumu, aku menegarkan hati dengan merapal mantra "semoga" dan berharap mantra itu mustajab. Gerimis kenangan menghujan tiba-tiba. Setiap mncoba menarik ingatan itu agar beralih pada segala selain kamu itu sia-sia. Tidak ada apa-apa selain ketakutan, kesendirian, dan bayangan suram. Aku berhenti melawan dan membiarkan ingatan itu menarikku ke beranda gelap masa lalu. Aku pejamkan mata dan mengabaikan hatiku yang terus meneriakkan namamu. Aku tak tahu apakah takdir, kelak, akan mempertemukan kita atau tidak. Ketika itu aku cemas. Aku tak tahu apakah benar-benar jatuh cinta. Sebab cinta, seperti hujan. Selalu bermula dari tetesan. Lambat laun makin lebat. Waktu memang merangkak dengan baik, tepat, dan cepat. Seolah tak memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu. Hari itu, saat perbatasan senja mulai datang. "Kamu dan aku" telah menjadi "Kita". Aku mempersilahkan kapalmu berlabuh di dermaga hatiku Menjadi belahan jiwa satu sama lain. Belahan jiwa yang semakin bening dalam mencintai. Setelah itu, aku sempat berulang kali membaca pesanmu, meyakinkan bahwa semua ini bukan mimpi yang mampu menempatkanku pada titik puncak kebahagiaan.Dan semuanya bukanlah mimpi, ini nyata. Tatkala pada jarum jam yang selalu berdetak, kutitipkan rindu yang tak pernah retak yang teruntuk hanya bagimu. Sebab, di jantung rinduku kamu adalah keabadian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar