Jumat, 07 Maret 2014

Haruskah aku memberi judul ?

Angin hujan menerpa wajahku, perlahan tetes demi tetes airnya meluncur lembut di pipi. Aku bersyukur, hujan segera turun, menyembunyikan air mata yang sedari tadi menetes. Melunturkan luka penuh liku yang ia berikan. Menimbun rasa sakit itu kedalam tanah, atau hanya menggenang dibawah kaki. Aku masih mencari jejaknya, kali ini pada suara gemercik hujan yang senantiasa menyapaku kala sepi dan gundah. Otakku seringkali meronta-ronta meminta agar hujan kunjung hilang. agar air mata kunjung surut. Namun hati selalu saja mengindahkan lewat kenangan. Mencegahku untuk memastikan segalanya, untuk meninggalkannya. Aku tau jika semuanya tak lebih dari garis ini, aku belajar menerima. Tapi entahlah, seperti tidak tersusun rapi rencana Tuhan, karena aku lebih mementingkan ego dan rasa lelahku ketimbang menunggu. Sudah terlanjur sekarang, tak ada yang bisa ku gubah lagi. Sudah cukup satu luka yang menganga lebar. Aku ingin menjauh.. Aku ingin pergi.. Aku ingin memperbaiki keadaan.. Aku ingin mengembalikan tawaku sendiri! Aku memejamkan mataku, berharap setelah itu tak ada lagi yang harus aku risaukan. Tak ada lagi mimpi-mimpi aneh yang setia menjadi teman dalam tidurku. Dadaku mulai sesak, mataku memanas, bibirku bergetar. Tak kuat lagi menahan tangis dan perih. Ku paksakan memejamkan mata, agar aku segera tertidur dan melupakan semua yang terjadi hari ini. Membiarkan air mata menetes dengan derasnya. Dan akhirnya aku benar-benar tertidur. Sayangnya, kenangan tak pernah mau berdamai denganku, masih mengikuti kemana arah aku ingin menghindar. Dalam mimpi yang tak karuan, aku mendengar sayup-sayup suaranya, remang-remang melihat wajahnya. Dan menghilang. Ada nada yang ia sengaja lengkingkan. Pada bait terakhir sebelum berucap selamat tinggal. Telingaku menangkap samar satu kalimatnya. Ada ragu atas keyakinanku tentang maksudnya. Mungkinkah, derainya tadi hanya bisikan nyata atas ilusiku. Detak yang ku hitung dalam ingatan, kembali sesak tersengal oleh rindu. Yang ia bawa saat degupku mati suri. Dan napasku menggema pada dinding bisu. Pada ketukan terakhir di ambang pintu. Telinga menangkap langkah kaki dibaliknya. Entah menuju atau berjalan jauh. Namun ada gugup yang angin desaukan. Dari sebuah bingkai di jendela senja. Dia berhenti. Membiarkanku tenggelam pada lamunan. Entah apa maksudnya, aku tak paham. Aku terjaga, melihat sekeliling yang gelap gulita. Sialnya, sepi dan mimpi tadi, membuat otak tak mau berhenti berfikir. Serta degup jantung yang berdentum-dentum tak mau tenang. Aku sesegukan tak karuan disini.. Membasuh wajah dengan air mata. Mungkin, kenangan sudah mengutuk diri, menjadi yang selalu ada dalam setiap langkah.