Jumat, 12 September 2014

Saranghae..

Selamat sore. Apa kabarmu? Semoga baik-baik saja. Aku ingin bercerita tentang keseharianku, apapun yang aku lakukan selang waktu luangku. Jujur saja, setiap saat aku selalu memikirlanmu, mengingat sosokmu ketika masih ada di kotaku, aku mengingatmu ketika aku masih bisa melihatmu setiap hari. Aku juga mengingat ketika dengan nafas yang terengah-engah aku mengejarmu yang tak pernah mau mempedulikanku. Ketika itu, aku berharap kamu bisa mengganti nafasku yang terbuang. Ketika itu juga, aku menginginkan kamu memberiku sekotak obat-obatan untuk mengobati luka lebam di dalam hatiku. Aku juga pernah berharap, kamu akan menghapus air mataku dengan tanganmu. Lama sekali aku menunggumu. Sepertinya di antara jarak kita yang jauh, selalu ada kata "Menunggu" yang mengambang. Aku juga tidak tahu apa penyebabnya. Saat itu aku menunggumu untuk melindungi hatiku didalam hatimu. Namun, kini aku menunggumu pulang. Kapan kamu pulang? Kapan kamu kembali membawaku dalam pelukanmu yang nyata? Kapan aku bisa menatap matamu dan menikmati senyumanmu? Tolong, kali ini jangan membuatku kehabisan suara karena aku sudah meneriaki namamu di setiap pagi yang sepi.Tolong, jangan membuatku kehabisan nafas lagi hanya untuk sekedar menahan air mataku jatuh. Dan tolong, jangan membuat air mataku jatuh tanpa henti karena mengingatmu. Semua orang disini terasa begitu jahat dan dingin. Dingin sekali. Lantas dimana lagi aku bisa menemukan kehangatan? Kamu tau? burung yang berkicau setiap pagi hari. Bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya. Seakan-akan mengejekku yang hanya berjalan dengan bayanganku sendiri. Ketika itu adalah saat dimana aku benar-benar ingin menangis. Seperangkat perkusi di dalam jantungku mulai bertabuhan dengan meriah. Hatiku berteriak dengan keras, menunjukkan bahwa aku tidak pernah ingin kehilanganmu dari pelukanku. Aku tidak pernah tahu mengapa ada rasa kosong pada saat aku membuka mata dari tidur lelapku, mengetahui bahwa kamu tidak ada didekatku seperti dulu. Namun, setidaknya kamu masih mencintaiku dan aku masih mencintaimu. Lalu, yakinkan padaku bahwa kamu akan kembali. Yakinkan padaku, bahwa kamu akan membawaku kedalam pelukanmu. Yakinkan padaku, bahwa aku bisa melihat matamu dan menikmati senyumanmu lagi. Dan, maafkan aku karena tidak bisa menepati janji agar tidak menangis lagi. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menemanimu disana. Maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi obatmu ketika kamu sedang sakit disana. Tapi, berjanjilah bahwa tidak akan ada orang yang pertama kali mendengarkan keluhanmu selain aku. Berjanjilah bahwa tidak akan ada mata orang lain yang meyakinkanmu jika semua baik-baik saja selain aku. Berjanjilah bahwa tidak akan ada bahu orang lain yang lebih kokoh untukmu bersandar selain aku. Berjanjilah bahwa hanya ada satu orang yang kamu simpan dalam kotak hatimu, yaitu aku. Aku akan selaku menunggumu di pelabuhan ini. Aku selalu menunggu nahkodaku kembali dengan selamat, kembali dengan perasaan yang sama.

Minggu, 07 September 2014

He's all I want.

Untuk yang kesekian kalinya, mataku menatap langit yang begitu sepi. Biru bersih tak berawan, namun cerah. Burung-burung dengan berisik sedang bercuap-cuap dengan teman mereka masing-masing. Menceritakan sebuah dongeng menyambut hari. Bisa kurasakan kesepian yang menjalar diseluruh langit Malang. Semakin menambah sepi yang tak kunjung hilang di dalam hati. Dalam kepalaku, tumbuh anak-anak rindu yang lugu. Mencoba bangkit dari luka yang menggigit. Kupaksa diriku tersenyum, berusaha mengimbangi kebahagiaan burung-burung yang senang bercerita di pagi hari. Begitu irinya diriku dengan mereka yang bisa terbang kesana-kemari, entah tanpa beban atau tidak. Jika aku memiliki sayap seperti mereka, aku akan ber-transmigrasi dari langit Malang ke langit yang sekarang kamu tempati. Betapa tidak, rindu sudah menjadi penyakit paling kronis yang menggerogoti tubuhku. Kupikir, aku adalah obat. Tapi itu salah. Kamu dan aku sama-sama membutuhkan. Apa kabarmu disana? Apakah kamu baik-baik saja? Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah masih menyimpanku dalam penjara hatimu? Apakah aku masih menjadi satu-satunya dalam hatimu? Aku masih menjadikan kamu sebagai tokoh utama dalam duniaku. Aku masih membawa namamu dalam percakapanku dengan Tuhan. Aku masih disini. Beberapa waktu lalu aku pernah bertanya kepadamu. Mengapa senja muncul dalam waktu yang cukup singkat? Mengapa sesuatu yang indah hanya ada dalam waktu yang cukup singkat pula? "Senja yang indah itu memang hanya sebentar, tapi suatu saat ia pasti kembali dengan warna yang lebih indah lagi dari yang sebelumnya. Jika menunggu waktu pasti akan terasa lama, tapi jika kamu mengingat waktu terjadinya, ia akan datang lebih cepat dari yang kamu duga." katamu. Apakah benar begitu? Apakah akan selalu seperti itu? Jika memang benar seperti itu, aku tidak tahu harus berapa lama lagi aku memelihara penyakit yang ternamai rindu ini. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku harus bertahan. Tapi, bagaimanapun juga rindu ini pula yang selalu menuntunku untuk selalu mempertahankan apa yang harus aku pertahankan. Rindu ini pula yang selalu mengajariku bagaimana rasanya bertahan untukmu yang terhalang ratusan atau bahkan ribuan pintu di depan sana. Yang terhalang oleh kilometer dan membuat kita semakin merasakan ada jarak yang harus kita tempuh untuk menghilangkannya, untuk menjadikan kita dekat. Dan, aku percaya kamu juga akan menjaga kokohnya benteng yang telah kita bangun. Aku tidak pernah menuntutmu untuk menjadi apa yang aku mau, aku tidak pernah mau membebanimu dengan berbagai persoalan yang berkelebat dibenakku. Aku hanya ingin jalan terbaik yang layak kita lewati, untuk membuka berbagai pintu yang ada di depan sana. Aku mempercayaimu sebagai nahkoda yang akan mengatur laju kapal, berlabuh dilaut hatiku, berlabuh di samudera yang akan kita lewati bersama-sama. Dan hanya ada satu pelabuhan yang akan menjadi tempat pemberhentian, pelabuhan yang bernama kebahagiaan. Tentang senja yang mengapa muncul dalam waktu yang singkat, aku sudah menemukan jawabannya. Kupikir, keindahan yang ia miliki terlalu berharga. Tidak akan ada sembarang orang yang benar-benar menikmati keindahan yang dimilikinya. Hanya orang-orang yang benar-benar mencintainya, yang hanya akan bisa tersenyum bahagia dengan sosok senja yang membawa bahagianya cinta menjadi sangat bahagia. Karena cinta adalah perasaan, ketika pertama kali aku mengenalmu. Cinta adalah rasa sakit, dunia akan cemburu kepada aku yang memilikimu. Orang yang membuatku bernafas. Dan hanya satu orang yang terukir dalam hatiku. Orang yang hidup dimataku. Hanya ada satu orang yang tersembunyi di hatiku. Orang yang terbenam dalam kepalaku, orang yang tinggal dalam kenanganku. Kamu. Seperti temanmu, seperti bayangmu. Kita sudah melangkah bersama-sama. Di hatimu, aku meletakkan tanganku dan dari tempatmu, kau akan selalu bisa melihatku.