Kamis, 27 Februari 2014

Sajak Tanpa Judul

Tak ada yang bisa kusajakkan selain kamu. Tak ada yang bisa kurisaukan selain rindu. Tak ada yang bisa kunyanyikan selain haru. Saat mataku bersafari menelusuri langkahmu, terus berusaha menemukan jejakmu dari ribuan ilalang disitu. Saat itu pula awan hitam menutupi senja, seolah ingin mengatakan padaku aku harus melupakanmu. Dari sebuah perasaan yang terhalang debu, juga sekelumit jiwa yang tak kenal waktu. Memberi seulas senyum dan tawa pilu. Seolah rindunya itu menerpaku. Senja memang berkode seperti itu. Sayangnya, hatiku masih seperti batu. Yang tak kenal mati kutu. Masih bersikeras menemukanmu, menggapai tanganmu, memilikimu. Deru malampun tau, bahwa namamu terukir jelas dihatiku, dibenakku.

Mungkin

Selamat malam pelukis rindu. Tak ada yang tahu bagaimana rindu ini mendatangiku setiap waktu. Sebab, kamu kenangan yang tak meminta saputangan, setiap air mata mengingatmu. Sedang aku, ingatan yang sepenuhnya kamu. Angin senja menyapu wajahku ketika paragraf pesanmu ku baca berulang kali. Di halaman rumah, sunyi melambaikan tangan, mengajakku menjenguk masa lalu. Gerimis kenangan menghujan tiba-tiba. Aku berharap kamulah yang datang mengobati rinduku. Beginilah caraku menguras sunyi: menyesali diri, membasuh wajah dengan air mata, dan mengutuk keraguan yang lekat dikepala. Kesendirian, memang melekatkanku pada kesepian. Dan kamu, masih tetap menjadi bayang-bayang. bayangan sejati. Aku menatap diriku pada air jernih di depanku, aku menimang-nimang rindu yang kamu tumpahkan di wajahku hingga membentuk ekspresi memelas. Entahlah, hanya rindu yang jadi gara-garanya. Satu hal yang tak aku menegerti,kenapa waktu dan kenangan begitu tak bersahabat dengan jiwaku? Mengapa yang bersahabat dengan jiwa ragaku malah air mata? Mungkin, bayangmu sudah terlalu melekat disini, Mungkin, rindumu tak akan pernah hilang dari jiwa Mungkin, senyummu masih teringat di saku kepala Mungkin, namamu masih terukir jelas disini Mungkin, sakitku masih menganga Mungkin, kamu masih selalu membebaniku dengan teka-teki.

Kamis, 20 Februari 2014

Entahlah

Sesekali aku selalu memilih sepi menyelimutiku. Kadang aku memilih duduk sendirian ditengah ruangan tanpa harus ada yang menggangu. Tanpa harus ada sekelumit rasa sedih ataupun galau yang terus meminta merasuki tubuhku , beredar .dalam setiap pembuluh darahku. Tak jarang, aku merasakan ada yang kurang dari sekotak tawaku, aku merasa akan ada lagi yang hilang. Aku menunduk ketika ingar-bingar kehidupan mendatangiku. Aku merenung ketika kegelapan menyergapku. Aku membisu ketika senja meninggalkanku. Aku terpojok ketika dunia seperti tidak sejalan denganku. Aku memejamkan mata ketika tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya, aku ingin menangis meluapkan segala ketidak nyamananku. Mengusir sekelumit harap yang selalu terperangkap dalam tiap degup jantung. Sungguh aku ingin pergi dari hiruk pikuk yang menyesakkan dada, aku benci melihat orang yang salah berlalu-lalang disekitarku. Tolong.. aku muak.. Aku ingin pergi kesuatu tempat dimana tak ada seorangpun yang mengenalku, dimana tak ada seorangpun yang menyakitiku, membuatku kecewa, dan sedih. Namun itu mustahil. Aku hidup di dunia yang tentunya beragam fragmen. Bukan hanya cinta, namun orang yang paling dekat sejak kecil juga tak pernah mendengarkan sepatah kata nasehat yg aku ingin berikan. Aku tak kuat jika terus mengalah dan mengalah. Benci. satu kata yang sering lewat didalam otak. Tapi aku tak pernah membenci. Seorang laki-laki tua yang sudah mengajariku bahwa membenci tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Lantas, apa itu benci? Mengapa kata tersebut kerap merambati pikiranku? Aku benci kata benci. Aku benci kesalahan. Aku benci kekecewaan.. Sudahlah, kalian tak mungkin akan mengerti. Kusudahi kegalauan yang merenggut kebahagiaan. Meski hanya sementara.

Senin, 17 Februari 2014

Ini Caraku

Sudah ku sajakkan rindu Pada malam yang menolak sepi. Deru angin subuh pun tau, Bahwa adamu lebih hangat Daripada kenangan yang terus meminta di ingat. Ketika pagi mengetuk pintu hati, Membawa serta serpihan mimpi, Aku ingin menjadikan angan itu nyata, Serupa bunga yang mekarkan adamu. Meski genggamannya berduri; perih. Ada sayup-sayup pada kelopak, Menimang kantung-kantung hitam, Terjaga lelapnya untuk menilik kabarmu, Meski baikmu telah kau lisankan padanya. Aku; menunggu sendiri bagian sepi. Yang jawabnya masih kau bisukan. Jika detak degupku tak mengindahkan, Bahkan membuat gaduh pada teduh hatimu. Maaf. Ini hanya caraku Mengharap dirimu berbalik dan tersenyum. cr : tepiansajak.blogspot.com

Menggali kenyataan

Pada sore ditemani dengan hujan yang turun dengan lembutnya. Pada sore ditemani dengan pena dan kertas yang kerap menjadi sahabat bisu. Pada sore yang ditemani dengan segenggam keyakinan. Awalnya, aku tak mengerti apa arti hidup sesungguhnya. Juga sesosok fragmen yang harus ada, Sahabat. Ketika kecil, aku tak pernah peduli dengan seorang sahabat. Aku tak pernah percaya sahabat bisa mengubah segalanya. Aku memang punya teman. Tapi hanya teman tidak dekat(dulu). Tentunya, kian lama aku lebih dewasa. Kini aku belajar dan mengerti tentang sesosok sahabat. Awalnya aku mengira sahabat adalah seseorang yang bisa menemani dalam suka ataupun duka saja. Iya. Namun, sekarang sahabat yang kukenal dengan sifat itu malah membuatku kecewa dikemudian hari. Memang sifat semua orang berbeda-beda. Tapi apa pantaskah seorang sahabat yang sudah dipercaya malah membuat hati sahabatnya sendiri menangis? Kecewa? Aku membiarkan segalanya berjalan sesuai dengan jalurnya, layaknya air yang mengalir senjalan dengan alurnya. Memang ada rasa kesal yang sudah menggumpal seperti batu. Namun aku tidak diajarkan untuk memaki orang hanya karena hal sepele. Aku diajarkan sabar, tetapi tegas. Aku diajarkan lembut tapi disiplin. Jujur saja, aku tak bisa membenci seseorang meskipun orang tersebut menyakitiku. Seolah kembali menapak tilas perjalanan kehidupan yg selama ini aku lalui. Dan, kini aku mengerti jika sahabat itu tak hanya berdefinisikan menemani, tapi juga peka. Tak menutupi segalanya.Menyuguhkan semua luka penuh liku serta derai tawa penghantar bahagia.

Minggu, 16 Februari 2014

Seriously, (maybe) i'm fine

Mungkin, kamu berfikir bahwa aku menyerah dengan segala kepalsuan yang kamu suguhkan. Aku tidak menyerah, aku mengalah.. Aku membiarkanmu bahagia dengan Bintang disana. Aku tak akan pernah memaksamu menemaniku dengan tali yang selalu kau gantungkan padaku. Iya. Aku mengalah karena aku tak kuat lagi, bukan berarti juga bahwa aku melepaskanmu. Aku masih membawa bayangmu dalam setiap langkahku. Bukankah, bayangan tak akan pernah lepas dari ikatan? Bisa dibilang, kamu adalah sosok bayang-bayang dalam hidupku. Saat aku mengetahui kabar jika kamu telah bahagia dengan Bintangmu, aku merasa lega, senang. Meski rasanya seperti tersayat-sayat. Aku tidak melebih-lebihkan perasaan. Aku apa adanya. Aku melerakanmu demi Bintang. Aku tetap menyayangimu walaupun kamu seringkali menganggapku boneka, walau seringkali kau menganggapku tidak berguna. Aku tidak marah, aku hanya kecewa. Apa pantaskah, jika aku disini yg tulus malah kamu ejek dengan kata-kata yg sama sekali tidak indah? Meskipun secara tidak langsung, aku bisa mengerti. Kamu hanya menganggapku angin lalu. Jika dipikir-pikir seolah aku hanya oksigen yg dihirup sementara lalu dihembuskan menjadi karbondioksida yang tidak kamu butuhkan lagi. Iya. seperti sosok ku yang seringkali kau abaikan pengorbanannya. Tak apa, dadaku masih seperti senja. Aku membiarkan bayangmu berlalu lalang dalam ingar-bingar kehidupanku, kubiarkan dirimu menjadi fragmen dalam ruang hatiku. Aku tak peduli kamu menjadi debu dalam ruang kosong. Membiarkanmu menjadi cahaya dalam setiap kegelapan. Segalanya kubiarkan mengalir begitu saja. Sama halnya dengan dirimu yang kubiarkan mengalir dalam samudra hidupku lalu singgah di dermaga rinduku. Menggenang sampai akhirnya kembali lagi seperti siklus yg sudah biasa kaulakukan. Aku merelakan kamu melakukan itu , karena jika aku memprotes semuanya kamu akan pergi dari semua perotasian hidupku, aku tak mau kamu pergi.. aku takut kehilangan senyuman dan perhtianmu meski hanya sebatas pesan singkat. Aku menyayangimu dengan dibumbuhi kata 'betapa' . Sudah kesekian kali aku menjadikanmu tokoh utama dalam sastra-sastraku maupun dalam otakku. Aku tak pernah bosan menceritakannya.. Ini adalah sebentuk rasa yang kerap dirasakan hatiku meski pada akhirnya pena yg berbicara.. Jika mungkin ada keajaiban datang dan kamu membaca sastra-sastra yg menurutmu absurd ini, aku tak sabar melihat ekspresimu dan perasaanmu selanjutnya. Ah.. tapi tak mungkin kau mengubah perasaanmu secepat kamu membaca ini. Kamu sudah bahagia dengan Bintang, Bintang yg menurutmu selalu memberikan cahaya di kegelapan. Aku bahagia jika kamu bahagia, aku bersedih jika kamu bersedih, aku mengkhawatirkanmu jika kamu diam.. Aku mengenalmu tak terlalu lama, namun aku tau kamu akan menutup telinga lalu beranjak pergi jika aku membicarakan soal cinta melulu. Baiklah, terakhir.. Aku mengenalmu tanpa banyak ucap, menyayangimu tanpa pengungkapan, merindukanmu tanpa tindakan, dan kamu sudah mengajariku bahwa manisnya cinta adalah duri. Setiap kita menyayangi seseorang pasti akan ada rasa sakit, untuk tau arti bahagia yg sesungguhnya, untuk tau akan ada tawa dibalik tangis. Dan membuatku sudah terbiasa dengan air mata, membuatku lebih tegar menghadapi badai. Iya. Seperti kataku, dadaku memamang cukup lapang seperti senja yg menampung gelap terang atau tangis dan tawa. Satu hal, mataku juga seperti awan yang tak sanggup membendung air mata.

Berpijak disini, untuknya.

Saya masih berada disini.. Masih menemani sepi yang tak kunjung hilang. Meskipun kamu yang kutunggu juga tak kunjung mengerti. Sudahlah, saya sudah cukup lelah sebenarnya. Senja pun juga ikut-ikut tidak menampakkan cahayanya, namun mengapa diriku masih saja setia menunggu? Entahlah, kamu seperti getaran di hidup saya.. Iya. Kembali lagi lalu menjauh, kembali lalu menjauh. Terus seperti itu dan saya tidak tahu kapan kamu akan memberi kejelasan. Rantai hatiku masih kuat. Masih mampu memuat segalamu. Namun, bagaimana jika rantai itu rapuh? Ah, mungkin hujan sudah memilih untuk menikahi kepedihan. Lalu aku hanya bisa menundukan kepala, sekuat mungkin membendung air mata. Menengadah lalu mendunduk lagi. Kali ini hujan benar-benar turun. semoga rinduku kunjung masuk dalam kepekaan rindumu. Dan kamu lekas menghapus mendung di atas kepala. Serta, Allah cepat-cepat mengemas semua yang berhubungan dengan kamu. Agar aku tidak selalu berharap yang tidak-tidak, yang melebihi batas wajar. Agar aku terbebaskan dari kerajaan milikmu yang sungguh memenjarakan perotasian hidupku. Dan menjalani hidup semestinya. Tanpa harus ada namamu yang terselubung di sela-sela otakku. Tanpa harus ada sisa rindu disela kata-kataku. Suatu waktu, aku selalu merasakan Senja begitu cepat menenggelamkan dirinya. Pada awan-awan petang, Ia meleburkan indahnya. Hingga malam, hingga kelam. Pada suatu hari, aku selalu merasakan awan hitam begitu cepat menyelimuti bumi dan hujan begitu cepat menggenang. Tiap tetesnya tak lagi berbisik lembut, tetapi mengeram menahan luka yang dibuat oleh petir. Lukanya masih terlalu menganga, pipinya basah. Suaranya tak lagi seperti nyanyian alam, namun seprrti isak tangis yang terlalu lama ditahan. Air itu tidak mendapatkan muara, air itu tidak memiliki sesuatu yang bisa menghilangkan sakitnya, terus menetes tiada hentinya. Mendung lantas meraja lela. Kamu, iya kamu. Apa kamu tidak berniat menolongnya? Memberikan plester dan sekotak obat agar air matanya surut? Apakah dihatimu tidak ada celah sedikitpun untuk tidak menyakitinya? Oh.. Iya kamu Petir yang tidak pernah tahu rasanya terusik oleh bentakan mautmu dan perlakuanmu yang selalu menggantung. Pada hujan kali ini, ada jejak kakimu yang tertinggal. Ada rindumu yang tercecer. Ada cintaku yang tak selesai.

Langkah Tak Pasti

Aku berdiri disini masih dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya. Menunggu sebuah keajaiban Allah datang menghampiriku. Tak ada yang spesial disini.. Cinta masih menerkamku. Cinta masih memberiku sejumput kebahagiaan, perhatian dan kasih sayang. Aku bahkan tak tau apakah dia hanya menganggapku sebagai sahabat sangat dekat ataukah lebih? Semua jawaban masih berada ditangan Sang Kuasa dan dirinya sepenuhnya. Bulan ini, aku kaubanjiri berbagai pertanyaan dan perharian, oh.. tak lupa kau juga membanjiriku dengan senyum, tawa, haru, dan question not with answer.
Kamu bertanya, apa lagu yang aku sukai, untuk berlatih memainkan gitar. Dan aku bertanya, untuk apa kamu bermain gitar dengan semua lagu kesukaanku?
Setelah itu, kamu memberitahuku dan mengajariku membuat paper craft, secara langsung, dengan percakapan-percakapan kecil, dengan lirikan mata yang kadang-kadang bertemu dan sukses membuat detak jantungku tak karuan, salah tingkah. Setelahnya, aku menangis haru didalam kelas.. Yah, spontanitas, air mata itu mengalir tanpa diberi aba-aba.
Kemudian, setelah malam tiba, kamu mperhatikanku dengan perhatian yang mendalam, menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, kenapa tidak tidur-tidur hingga malam.. dan kita saling bertukar pikiran sampai pukul sepuluh malam. Aku benar-benar tak tahu apakah semua ini hanya ilusi yang melebihi btas wajar, aku tak tahu apakah semua ini hanya berkaitan dengan yang instan. Semuanya masih mengambang, masih menggantung. Tak jelas arahnya kemana. Aku hanya bisa berusaha, berdoa, dan berharap. Berharap bahwa keajaiban akan datang. Karena sikapmu terlebih sering berubah-ubah dan aku tak pernah menyukai hal seperti ini, sungguh! Aku akan menunggu, jika aku lelah menunggu aku akan berlari, jika aku lelah berlari aku akan berhenti dan menunggu, begitu seterusnya.. sampai kamu membebaskanku dari penjara rindu~