Kamis, 20 Februari 2014
Entahlah
Sesekali aku selalu memilih sepi menyelimutiku. Kadang aku memilih duduk sendirian ditengah ruangan tanpa harus ada yang menggangu. Tanpa harus ada sekelumit rasa sedih ataupun galau yang terus meminta merasuki tubuhku , beredar .dalam setiap pembuluh darahku.
Tak jarang, aku merasakan ada yang kurang dari sekotak tawaku, aku merasa akan ada lagi yang hilang. Aku menunduk ketika ingar-bingar kehidupan mendatangiku. Aku merenung ketika kegelapan menyergapku. Aku membisu ketika senja meninggalkanku. Aku terpojok ketika dunia seperti tidak sejalan denganku. Aku memejamkan mata ketika tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya, aku ingin menangis meluapkan segala ketidak nyamananku. Mengusir sekelumit harap yang selalu terperangkap dalam tiap degup jantung. Sungguh aku ingin pergi dari hiruk pikuk yang menyesakkan dada, aku benci melihat orang yang salah berlalu-lalang disekitarku. Tolong.. aku muak.. Aku ingin pergi kesuatu tempat dimana tak ada seorangpun yang mengenalku, dimana tak ada seorangpun yang menyakitiku, membuatku kecewa, dan sedih. Namun itu mustahil. Aku hidup di dunia yang tentunya beragam fragmen. Bukan hanya cinta, namun orang yang paling dekat sejak kecil juga tak pernah mendengarkan sepatah kata nasehat yg aku ingin berikan. Aku tak kuat jika terus mengalah dan mengalah.
Benci. satu kata yang sering lewat didalam otak. Tapi aku tak pernah membenci. Seorang laki-laki tua yang sudah mengajariku bahwa membenci tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Lantas, apa itu benci? Mengapa kata tersebut kerap merambati pikiranku? Aku benci kata benci. Aku benci kesalahan. Aku benci kekecewaan..
Sudahlah, kalian tak mungkin akan mengerti. Kusudahi kegalauan yang merenggut kebahagiaan. Meski hanya sementara.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar