Senin, 17 Februari 2014

Menggali kenyataan

Pada sore ditemani dengan hujan yang turun dengan lembutnya. Pada sore ditemani dengan pena dan kertas yang kerap menjadi sahabat bisu. Pada sore yang ditemani dengan segenggam keyakinan. Awalnya, aku tak mengerti apa arti hidup sesungguhnya. Juga sesosok fragmen yang harus ada, Sahabat. Ketika kecil, aku tak pernah peduli dengan seorang sahabat. Aku tak pernah percaya sahabat bisa mengubah segalanya. Aku memang punya teman. Tapi hanya teman tidak dekat(dulu). Tentunya, kian lama aku lebih dewasa. Kini aku belajar dan mengerti tentang sesosok sahabat. Awalnya aku mengira sahabat adalah seseorang yang bisa menemani dalam suka ataupun duka saja. Iya. Namun, sekarang sahabat yang kukenal dengan sifat itu malah membuatku kecewa dikemudian hari. Memang sifat semua orang berbeda-beda. Tapi apa pantaskah seorang sahabat yang sudah dipercaya malah membuat hati sahabatnya sendiri menangis? Kecewa? Aku membiarkan segalanya berjalan sesuai dengan jalurnya, layaknya air yang mengalir senjalan dengan alurnya. Memang ada rasa kesal yang sudah menggumpal seperti batu. Namun aku tidak diajarkan untuk memaki orang hanya karena hal sepele. Aku diajarkan sabar, tetapi tegas. Aku diajarkan lembut tapi disiplin. Jujur saja, aku tak bisa membenci seseorang meskipun orang tersebut menyakitiku. Seolah kembali menapak tilas perjalanan kehidupan yg selama ini aku lalui. Dan, kini aku mengerti jika sahabat itu tak hanya berdefinisikan menemani, tapi juga peka. Tak menutupi segalanya.Menyuguhkan semua luka penuh liku serta derai tawa penghantar bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar