Untuk kamu, yang berada di pulau antah berantah,
tersesat atau masih mencari jalan pulang
di pulau yang tidak aku ketahui seluk beluknya.
Di pulau yang tak pernah aku kunjungi.
Kubilang, tulisan-tulisan ini masih sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Tulisan ini bertokoh utama seorang yang bernama Kamu. Menceritakan tentang apapun yang membuatku tersiksa; rindu. Menjabarkan tentang cerita kita yang terikat kilometer. Tulisan ini, seakan membuatku terlihat tidak berdaya. Padahal, aku sangat ingin telihat baik-baik saja di hadapanmu. Kurasa, kamu mengenalku dengan sangat baik. Betapa aku sangat tidak bisa menahan kegundahan yang ada di dalam hati. Kegundahan yang selalu berwujud rindu yang awalnya hanya sekecil debu, namun sekarang debu itu bertambah tebal seakan tidak pernah dibersihkan. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membersihkannya. Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya. Seolah-olah aku tidak pernah bisa menyentuh sebutir debu itu.
Mungkin hanya tulisan ini satu-satunya alat untuk melepaskan semuanya. Jujur, hari ini aku benar-benar merasa tersiksa dengan semuanya. Dengan kerinduan yang tidak pernah berhenti berdetak. Aku pun tidak pernah mengerti mengapa bisa separah ini. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.
Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan. Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu yang sebenarnya. Apa kamu baik-baik saja? Apakah kamu sehat? Benar-benar sehat? Meskipun aku percaya padamu sepebuhnya, tapi rasa percaya itu belum sepenuhnya bisa menghentikan rasa takutku, belum sepenuhnya menghentikan rasa khawatirku. Barangkali kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Barangkali kamu bisa memelukku yang mungkin sudah cukup lemah dan pucat.
Bukan hal mudah bagiku untuk tersenyum dengan sangat bahagia. Bukan hal mudah bagiku untuk tidak memperdulikan apa isi hatiku yang sebenarnya. Aku ingin sekali mengatakan ‘Hari ini aku baik-baik saja.’ Tanpa mengubah kenyataan bahwa aku memang baik-baik saja. Tapi, aku tidak pernah bisa, sungguh. Jikalau aku berkata ‘aku baik-baik saja’ beberapa hari kedepan aku akan mengatakan ‘aku lelah’ . Sepertinya kamu disana cukup baik. Aku senang mendengarnya. Karena hal yang paling membuatku lega adalah mengetahui bahwa kamu baik-baik saja dan bahagia disana. Bahagia dengan tempat tinggal barumu, sekolah barumu, teman-teman barumu, lingkungan barumu. Aku senang sekali, karena doa-doaku telah dikabulkan dengan Pemilik Rindu yang sebenarnya. Aku juga masih merapal mantra ‘semoga’. Semoga aku masih menjadi satu-satunya dalam duniamu.
Kali ini, tolong ajari aku menjadi jiwa yang ‘baik-baik saja’
Aku tidak ingin ketika aku menginjakkan kakiku disekolah, kenangan membuat tenggorokanku tercekat kembali menyerangku.
Rasanya, nafasku sudah habis, tak tersisa.
Ajari aku bagaimana cara menjawab pertanyaan teman-teman disekolah yang kebanyakan tentang keadaan hubungan kita.
Ajari aku cara menyembunyikan air mata yang setiap hari membuat pipiku terasa dingin. Sepertinya, tanganku sudah cukup lelah untuk menghilangkan air mata itu. Lantas, siapa yang akan menghapus air mataku lagi?
Ternyata, rasa sakit karena jarakmu dan aku yang terlampau jauh yang selama ini kupelihara, tumbuh subur merimbun sampai mencekik inangnya sendiri. Bagaimana ini?
Ah tidak, jangan meminta maaf padaku. Kamu tidak pernah bersalah. Aku yang sepenuhnya salah karena tidak begitu tegar menghadapinya.
Aku sedang tidak mengeluh aatau memaksamu kembali. Aku sedang tidak mengemis perhatian kepada kamu. Aku sedang tidak membebanimu dengan pikiran-pikiran tentang lemahnya diriku. Aku tidak sedang membuatmu khawatir. Aku tidak mau membuatmu memusingkan segala tentangku. Aku tidak sedang membuat kamu bersedih disana.
Aku hanya ingin menulis tulisan-tulisan yang berceceran diantara paragraf yang tidak teratur.
Aku hanya ingin berbagi cerita denganmu.
Dengan orang yang teramat aku sayangi.
Baiklah, tetap menjadi yang terbaik di sana..
Dan, aku akan berusaha menjadi jiwa yang ‘baik-baik saja’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar