Kamis, 27 Februari 2014
Mungkin
Selamat malam pelukis rindu.
Tak ada yang tahu bagaimana rindu ini mendatangiku setiap waktu. Sebab, kamu kenangan yang tak meminta saputangan, setiap air mata mengingatmu. Sedang aku, ingatan yang sepenuhnya kamu.
Angin senja menyapu wajahku ketika paragraf pesanmu ku baca berulang kali. Di halaman rumah, sunyi melambaikan tangan, mengajakku menjenguk masa lalu. Gerimis kenangan menghujan tiba-tiba. Aku berharap kamulah yang datang mengobati rinduku. Beginilah caraku menguras sunyi: menyesali diri, membasuh wajah dengan air mata, dan mengutuk keraguan yang lekat dikepala. Kesendirian, memang melekatkanku pada kesepian. Dan kamu, masih tetap menjadi bayang-bayang. bayangan sejati.
Aku menatap diriku pada air jernih di depanku, aku menimang-nimang rindu yang kamu tumpahkan di wajahku hingga membentuk ekspresi memelas. Entahlah, hanya rindu yang jadi gara-garanya.
Satu hal yang tak aku menegerti,kenapa waktu dan kenangan begitu tak bersahabat dengan jiwaku? Mengapa yang bersahabat dengan jiwa ragaku malah air mata?
Mungkin, bayangmu sudah terlalu melekat disini,
Mungkin, rindumu tak akan pernah hilang dari jiwa
Mungkin, senyummu masih teringat di saku kepala
Mungkin, namamu masih terukir jelas disini
Mungkin, sakitku masih menganga
Mungkin, kamu masih selalu membebaniku dengan teka-teki.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Nice (y)
BalasHapus